Apa jadinya bila hati ini sering
tersakiti? Aku tidak tahu. Entah mengapa segala permasalahan kehidupan
kuserahkan pada hati untuk menyelesaikannya. Raut wajahku akan tersenyum jika
hati ini sedang berbahagia, dan raut wajahku akan tetap tersenyum jika hati ini
terluka. Hatiku lebih suka memendam kesedihannya sendiri tanpa berbagi padaku.
Kupikir hatiku terlalu bersikap mandiri. Yap, dia tidak butuh aku. Mungkin hati
telah mengetahui akibat jika dia menceritakan masalahnya padaku. Aku hanya bisa
meneteskan air mata dan membuat semua orang iba melihatku. Sesuatu yang terlalu
‘menye’ dan merusak tabiatku sebagai si pemilik hati yang kuat.
Karena sering tersakiti, hatiku
menjadi tahan banting. Awalnya butuh berhari – hari untuk memulihkan
kesakitannya. Namun setelah hidup hampir 17 tahun, rasa sakit sudah menjadi
makanan wajib bagi hatiku. Yap, tidak sedikit orang disekitarku yang berhasil
melukai hatiku. Sakit hati menjadi hal yang biasa. Apa mungkin ini menjadi
pertanda bahwa hatiku akan menutup dirinya untuk selamanya? Jika jawabannya
benar, aku mendukung apa yang dilakukan hatiku. Aku akan mengikuti setiap
langkahnya.
Tuhan, kuatkanlah hati ini. Aku
hanya memiliki satu hati. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Kau
mengambil hati ini dariku. Aku akan depresi? Kurasa tidak. Aku akan mencari
hati yang baru? Tidak, karena aku hanya ingin setia pada satu hati dan tidak
ingin hati yang lain menggantikannya. Apa aku akan mati? Ya. Tidak ada pilihan
lain selain mati. Aku hanya ingin hidup bersama hatiku, sebuah hati yang
membantuku memikirkan segala perasaan tanpa menggunakan logika. Hati,
bertahanlah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar