Senin, 26 Agustus 2013

Setia Untuk Satu Hati :')



Apa jadinya bila hati ini sering tersakiti? Aku tidak tahu. Entah mengapa segala permasalahan kehidupan kuserahkan pada hati untuk menyelesaikannya. Raut wajahku akan tersenyum jika hati ini sedang berbahagia, dan raut wajahku akan tetap tersenyum jika hati ini terluka. Hatiku lebih suka memendam kesedihannya sendiri tanpa berbagi padaku. Kupikir hatiku terlalu bersikap mandiri. Yap, dia tidak butuh aku. Mungkin hati telah mengetahui akibat jika dia menceritakan masalahnya padaku. Aku hanya bisa meneteskan air mata dan membuat semua orang iba melihatku. Sesuatu yang terlalu ‘menye’ dan merusak tabiatku sebagai si pemilik hati yang kuat.
Karena sering tersakiti, hatiku menjadi tahan banting. Awalnya butuh berhari – hari untuk memulihkan kesakitannya. Namun setelah hidup hampir 17 tahun, rasa sakit sudah menjadi makanan wajib bagi hatiku. Yap, tidak sedikit orang disekitarku yang berhasil melukai hatiku. Sakit hati menjadi hal yang biasa. Apa mungkin ini menjadi pertanda bahwa hatiku akan menutup dirinya untuk selamanya? Jika jawabannya benar, aku mendukung apa yang dilakukan hatiku. Aku akan mengikuti setiap langkahnya.
Tuhan, kuatkanlah hati ini. Aku hanya memiliki satu hati. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Kau mengambil hati ini dariku. Aku akan depresi? Kurasa tidak. Aku akan mencari hati yang baru? Tidak, karena aku hanya ingin setia pada satu hati dan tidak ingin hati yang lain menggantikannya. Apa aku akan mati? Ya. Tidak ada pilihan lain selain mati. Aku hanya ingin hidup bersama hatiku, sebuah hati yang membantuku memikirkan segala perasaan tanpa menggunakan logika. Hati, bertahanlah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar