Seandainya rasa penyesalan itu datangnya di awal, pasti tidak ada seorangpun yang salah dalam memilih jalannya. Tidak ada seorangpun yang bersedih karena ingin mengulang segalanya, dan tidak ada seorangpun yang...menangis.
Entah benar atau salah aku memilih jalan ini. Memilih untuk melepaskan seseorang yang hampir membuatku melupakan si jangkung. Aku memilih untuk menyakiti hati seseorang yang menerimaku apa adanya. Tiga minggu lebih sehari berpacaran, hanya seminggu aku berbaik hati padanya. Semua itu karena sifat keegoisanku yang masih terus memikirkan si jangkung.
Mungkin dia nampak kurang dari kriteriaku. Yep~ Kriteriaku banyak melekat pada diri si jangkung. Pintar dan cool. Dan dia bukanlah si jangkung. Aku merubahnya dengan segala keegoisanku. Dia suka update status di jejaring sosialnya, dan aku melarangnya. Diapun lambat laun mengikuti apa yang kukatakan.
Sementara dia berhasil merubah dirinya, aku masih keras dengan sifatku. Aku masih tidak ingin merubah apa yang ada dalam diriku, seperti yang dia harapkan. Dia menginginkanku ada di setiap harinya, meskipun kita tidak dalam satu sekolah. Namun sifatku yang keras ini tidak kunjung berubah.
Aku tahu, setiap orang memiliki batas kesabaran. Diapun mencapai titik puncak kesabarannya. Aku yang semakin lama semakin terlihat tidak peduli, menambah kekecewaannya. Pada saat itu juga, setelah berpacaran selama 3 minggu lebih sehari, dia memutuskan untuk pergi dariku.
Sekarang saatnya aku yang dibuat kecewa. Dia ingin benar - benar menjauh dariku dengan tidak menghubungiku lagi. Kini aku telah kehilangannya. Kehilangan orang yang selalu memperhatikanku, mencintaiku tanpa lelah. Piring yang pecah tidak bisa disatukan dengan sempurna lagi, begitu pula rasa cintanya yang telah kurusak sendiri, tidak akan kembali lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar