Minggu, 06 Oktober 2013

Penyesalan

Seandainya rasa penyesalan itu datangnya di awal, pasti tidak ada seorangpun yang salah dalam memilih jalannya. Tidak ada seorangpun yang bersedih karena ingin mengulang segalanya, dan tidak ada seorangpun yang...menangis.
Entah benar atau salah aku memilih jalan ini. Memilih untuk melepaskan seseorang yang hampir membuatku melupakan si jangkung. Aku memilih untuk menyakiti hati seseorang yang menerimaku apa adanya. Tiga minggu lebih sehari berpacaran, hanya seminggu aku berbaik hati padanya. Semua itu karena sifat keegoisanku yang masih terus memikirkan si jangkung.
Mungkin dia nampak kurang dari kriteriaku. Yep~ Kriteriaku banyak melekat pada diri si jangkung. Pintar dan cool. Dan dia bukanlah si jangkung. Aku merubahnya dengan segala keegoisanku. Dia suka update status di jejaring sosialnya, dan aku melarangnya. Diapun lambat laun mengikuti apa yang kukatakan.
Sementara dia berhasil merubah dirinya, aku masih keras dengan sifatku. Aku masih tidak ingin merubah apa yang ada dalam diriku, seperti yang dia harapkan. Dia menginginkanku ada di setiap harinya, meskipun kita tidak dalam satu sekolah. Namun sifatku yang keras ini tidak kunjung berubah.
Aku tahu, setiap orang memiliki batas kesabaran. Diapun mencapai titik puncak kesabarannya. Aku yang semakin lama semakin terlihat tidak peduli, menambah kekecewaannya. Pada saat itu juga, setelah berpacaran selama 3 minggu lebih sehari, dia memutuskan untuk pergi dariku.
Sekarang saatnya aku yang dibuat kecewa. Dia ingin benar - benar menjauh dariku dengan tidak menghubungiku lagi. Kini aku telah kehilangannya. Kehilangan orang yang selalu memperhatikanku, mencintaiku tanpa lelah. Piring yang pecah tidak bisa disatukan dengan sempurna lagi, begitu pula rasa cintanya yang telah kurusak sendiri, tidak akan kembali lagi.

Senin, 26 Agustus 2013

Berkelompok di kelas? Wajar

 

Bersaing secara sehat di kelas?Sangat Dianjurkan

 

Sengaja nggak kasih tahu informasi dari sekolah? CRAZY! -__-

 


Setia Untuk Satu Hati :')



Apa jadinya bila hati ini sering tersakiti? Aku tidak tahu. Entah mengapa segala permasalahan kehidupan kuserahkan pada hati untuk menyelesaikannya. Raut wajahku akan tersenyum jika hati ini sedang berbahagia, dan raut wajahku akan tetap tersenyum jika hati ini terluka. Hatiku lebih suka memendam kesedihannya sendiri tanpa berbagi padaku. Kupikir hatiku terlalu bersikap mandiri. Yap, dia tidak butuh aku. Mungkin hati telah mengetahui akibat jika dia menceritakan masalahnya padaku. Aku hanya bisa meneteskan air mata dan membuat semua orang iba melihatku. Sesuatu yang terlalu ‘menye’ dan merusak tabiatku sebagai si pemilik hati yang kuat.
Karena sering tersakiti, hatiku menjadi tahan banting. Awalnya butuh berhari – hari untuk memulihkan kesakitannya. Namun setelah hidup hampir 17 tahun, rasa sakit sudah menjadi makanan wajib bagi hatiku. Yap, tidak sedikit orang disekitarku yang berhasil melukai hatiku. Sakit hati menjadi hal yang biasa. Apa mungkin ini menjadi pertanda bahwa hatiku akan menutup dirinya untuk selamanya? Jika jawabannya benar, aku mendukung apa yang dilakukan hatiku. Aku akan mengikuti setiap langkahnya.
Tuhan, kuatkanlah hati ini. Aku hanya memiliki satu hati. Aku tidak bisa membayangkan jika suatu saat nanti Kau mengambil hati ini dariku. Aku akan depresi? Kurasa tidak. Aku akan mencari hati yang baru? Tidak, karena aku hanya ingin setia pada satu hati dan tidak ingin hati yang lain menggantikannya. Apa aku akan mati? Ya. Tidak ada pilihan lain selain mati. Aku hanya ingin hidup bersama hatiku, sebuah hati yang membantuku memikirkan segala perasaan tanpa menggunakan logika. Hati, bertahanlah!

Jumat, 23 Agustus 2013

'Kado Ulang Tahun' untuk Si Jangkung

'Kamu' Si Jangkung Berkacamata

Hal yang paling menyesakkan di dalam kehidupan ini adalah tidak tersampainya suatu perasaan. Menyakitkan? Mungkin. Sebuah rasa rindu yang selalu menggerogoti pikiran yang berusaha untuk melupakan sosok 'kamu' di dalamnya, membuang jauh - jauh kenangan terasa manis di hatiku, namun tidak untuk hati 'kamu'.
Aku mulai memikirkan bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak pernah mempersilahkan seseorang untuk memasuki hatiku. Kedengarannya terlalu berlebihan. Faktanya, hingga saat ini aku selalu mempersilahkan 'kamu' untuk masuk ke hatiku, dan menyakitinya. Bodohnya aku, pintu hatiku tertutup ketika 'kamu' masih ada di dalamnya.
Di dunia nyata, aku hanya bisa memandangi 'kamu' dari kejauhkan sambil tersenyum, mencuri pandang. Aku bersyukur ketika 'kamu' tidak memakai kacamata, karena 'kamu' tidak akan tahu jika aku memandang 'kamu'. Sepertinya bukan karena tidak memakai kacamata, namun karena tidak merasa. Anak SMA bilang, dia nggak peka! Kamu memang tidak memiliki kepekaan begitu tajam, dan aku merasakannya.
Kamu tidak memiliki perasaan yang sama dengan aku. Kamu yang selalu datang ketika kamu membutuhkanku, dan pergi begitu saja ketika aku masih ingin berada di dekatmu. 
 

Minggu, 17 Maret 2013

Aku dan Bunga – Bunga di Taman



Bunga – bunga di taman tumbuh dengan indahnya
Merajut asa dengan warna – warna ceria
Menebar impian pada sang pemilik prasetia
Menyambut cinta dari insan yang mencinta

Bunga – bunga di taman itu memiliki tangkai dan saling bergandengan
Seperti telapak tanganku yang terpegang erat olehnya
Bagaikan anganku yang digantikan oleh kenyataan
Kenyataan cinta yang dibawa olehnya

Aku dan bunga – bunga di taman itu adalah sama
Sama – sama hidup ditengah cinta yang nyata
Tak ingin sedikitpun tergores oleh jarum angkara
Tak ingin selangkahpun kesalahan mengarunginya

Aku dan bunga – bunga di taman itu akan selalu menjaga
Kemurnian cinta yang terbungkus oleh rasa
Keindahan cinta yang terhampar dari lautan anugerah
Kesucian cinta yang menghapus elegi dan menggantikannya dengan panembrama